MEMPERKUAT PERSAUDARAAN DI TENGAH PERKEMBANGAN TEKNOLOGI


Opini : Saat ini, teknologi berkembang dengan sangat cepat di kalangan masyarakat dan telah menjadi bagian fundamental dari pengetahuan.

 Teknologi secara praktis menciptakan alat, sistem, atau metode untuk menyelesaikan masalah yang sulit dipecahkan oleh akal manusia. Perkembangan ini di berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk di kalangan biarawan, sangat terasa.

Salah satu alat teknologi yang sangat penting bagi para biarawan adalah alat komunikasi seperti ponsel. Dalam konteks ini, komunikasi antar individu dan kelompok dianggap penting untuk menciptakan dan mempertahankan identitas serta budaya. 

Ponsel memudahkan penyampaian informasi dan penerimaan informasi dengan cepat. Namun, penggunaan alat komunikasi ini juga dapat mengakibatkan jarak antar individu, karena anggota komunitas lebih terfokus pada ponsel mereka masing-masing. 

Kebiasaan komunikasi yang positif, seperti kejujuran dan keterbukaan, mulai berkurang karena setiap orang sibuk dengan urusannya sendiri. 

Hal ini dapat melemahkan persaudaraan di antara anggota komunitas, yang seharusnya didasarkan pada kebersamaan dan interaksi satu sama lain.

Walaupun biara menjadi contoh hidup bermasyarakat yang baik dan mengutamakan kehidupan bersama, perkembangan teknologi membawa tantangan tersendiri. 

Tergantung pada bagaimana seseorang berinteraksi dengan orang lain, kualitas pembentukan karakter seseorang dalam komunitas sangat berpengaruh. Kehadiran alat komunikasi menjadi harapan sekaligus tantangan bagi setiap anggota biara.

Ada beberapa dampak negatif dari penggunaan teknologi dalam komunitas, antara lain:
1. Komunikasi Antar Anggota: Sebelum adanya alat komunikasi, interaksi antar anggota berjalan dengan baik. Namun, saat ini, kebiasaan itu mulai pudar, ketika anggota lebih memilih bersosialisasi di media sosial daripada dengan sesame mereka di komunitas.
   
2. Jadwal Ibadah: Anggota mulai kesulitan mengikuti jadwal doa. Contohnya, menonton YouTube dapat membuat mereka terlambat dalam berdoa. Ketidakhadiran pikiran yang tenang selama doa mengganggu konsentrasi dan mengurangi komitmen untuk menjalani kehidupan sebagai biarawan, memperbesar risiko krisis panggilan.

3. Keterlambatan dalam Kegiatan: Keterlambatan disebabkan oleh ketidakmampuan anggota mengontrol penggunaan ponsel mereka. Sosialisasi di media sosial sering kali membuat mereka mengabaikan tanggung jawab akademis, yang semakin menumpuk.

Tantangan dari penggunaan ponsel ini menjadi tanggung jawab seluruh anggota komunitas. Saatnya mereka menetapkan aturan pemakaian ponsel agar suasana komunitas bisa kembali harmonis, seperti membatasi penggunaan ponsel menjadi sekali seminggu atau sebulan. 

Nilai-nilai negatif yang muncul dari penggunaan ponsel harus ditekan agar tidak mengganggu kebiasaan positif di komunitas.

Peran para pembina juga sangat penting untuk mengawasi aktivitas para anggota agar dampak negatif tersebut tidak meluas. 

Membangun komunikasi dalam komunitas tentu tidaklah mudah, namun dengan dasar kerendahan hati, saling menghormati, dan mendengarkan, tantangan tersebut bisa diatasi bersama. Dengan demikian, setiap anggota komunitas dapat menjaga keharmonisan.

Saatnya seluruh anggota kembali kepada komitmen awal yakni menjadi biarawan dengan mengandalkan kerendahan hati, kejujuran, dan keterbukaan satu sama lain.

 Nilai-nilai damai dan cinta kasih dalam komunitas harus tetap dijaga meskipun ada kemajuan teknologi. Dengan ini, berbagai kecemasan dan tantangan yang dihadapi anggota komunitas bisa diatasi.

Komentar

Anonim mengatakan…
Mantap

Golopalengeditorial